Live In

Laporan perjalanan Live In

Berangkat

Hari Senin pukul 17.00, kami kumpul di sekolah. Setibanya kami di sekolah, kami langsung mulai bekerja. Pertama-tama, kami harus mencari handuk pesanan kami masing-masing. Lalu kami harus membungkusnya dengan terburu-buru karena dikejar waktu keberangkatan.

Akhirnya kami selesai membereskan seluruh keperluan sekitar pukul 18.30 dan kami berangkat sekitar pukul 19.30-an. Dengan membawa perlengkapan live in kami yang terkemas rapih di dalam tas ransel, kami masuk bis dan memulai perjalanan kami.

Perasaan nyaman, perasaan sedih, perasaan gembira dan perasaan tidak sabar berkecamuk di dalam hati. Namun perjalanan ini tidak mungkin dilupakan begitu saja.

 

Hari 1

Matahari terbit, dan kami masih berada dalam bis. Badan kami pegal-pegal. Mungkin tidurpun tidak nyenyak tapi kami tetap sabar menunggu. Kalau jam kamera saya tidak salah, berarti, kami tiba di gereja sekitar pukul 09.00 wib, dan tiba di rumah penduduk sekitar pukul 10.30 wib.

Kami dikumpulkan di gereja untuk diberi sambutan oleh panitia penyelenggara dari pihak sekolah maupun gereja atau desa tersebut. Setelah kata-kata sambutan, kami, anak-anak lingkungan St. Fransiscus adalah anak-anak yang pertama di usir dari gereja, meningat desa Bendo lingkungan St. Fransiscus  adalah daerah paling jauh.

Kami ke desa Bendo lingkungan St. Fransiscus naik mobil pick up. Setibanya di lokasi, Pa Suwono (ketua lingkungan), langsung menunjukan letak rumah kami masing-masing di bantu oleh Pa Anto yang mengantar beberapa anak menuju tempat mereka akan tinggal.

Setelah kami tiba di rumah masing-masing, kami boleh langsung memulai kegiatan kami di keluarga tersebut. Saya dan pasangan live in saya ketika masuk rumah, tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Bapa kami hendak menjemput anaknya, sementara ibu angkat kami sedang bekerja di pabrik rokok. Jadi, kami bertanya pada bapa angkat kami “Ada yang dapat kami bantu pa?” dan bapa nya menjawab dengan tenang bahwa tidak ada pekejaan dan kami di minta menemui mbah kami di rumah sebelah. Jadi kami ke sana dan menanyakan pertanyaan yang sama dengan apa yang kami tanyakan pada bapa kami.

Setelah bertemu dengan mbah kami, kami langsung di suruh makan. Kami memang lapar, jadi kami tidak menolak.. Setelah makan kami bertanya pada Mbah adakah yang dapat kami bantu, lalu ia berkata bahwa kami boleh membantu mengupas ketela. Kami bersorak senang karena akhirnya ada pekerjaan.

Setelah memberi makan sapi, kami tidak tahu apalagi yang dapat kami bantu, Mbah menyuruh kami tidur, begitu pula dengan Pa Anto. Jadi, karena kami tidak ingin tidur, kami memilh untuk berjalan-jalan. Setelah berjalan beberapa lama, kami bertemu dengan teman-teman kami di bendungan. Jalan untuk ke bendungan sangatlah jauh, jalannya menurun, jadi artinya untuk naik kami harus menanjak. Di bendungan, kami bermain-main, foto-foto, dan momen-momen inilah yang akan kami kenang. Sekitar pukul 12.30, kami kembali ke atas maksudnya, kami mau pulang ke rumah masing-masing.

Tidak terduga bahwa perjalanan untuk naik saja memerlukan waktu selama 30 menit-an. Mungkin kalau kami tidak berhenti dulu, kami hanya akan memakan waktu sebanyak 15 menit.

Akhirnya, kami tiba di atas. Kami langsung berjanjian untuk pergi mandi bersama-sama, namun, setelah saya dan Audrey berpikir 2 kali, mungkin bukan suatu keputusan bijak untuk kembali ke rumah lalu turun lagi. Jadi, kami menunggu di rumah Geraldine. Tapi setelah itu, kami tetap saja pulang ke rumah dengan membawa 2 teman. Kami ke rumah hanya untuk minum dan saya berganti celana mengingat bahwa mungkin tidak terlalu bijak untuk mengenakan celana jeans di tengah siang bolong.

Setelah minum, kami balik lagi ke rumah Geraldine dan Vio uuntuk janjian, tapi bukannya janjian, kami malah mengobrol dengan Mbah Parno.Di tengah keasyikan mengobrol, seorang mbah lewat membawa djerigen air yang besar di punggungnya dan sebuah ember besar di tangannya. Kami dengan spontan langsung berlari mengejar Mbah tersebut. Namanya Mbah Sudi.

Kami mengantar Mbah Sudi ke sumur tempat mandi dan mencuci. Lalu kami membantu mbah nya menimba air dari 2 macam sumur. Saya sendiri ketagihan menimba jadi selama kami menunggu mbah-nya mandi, kami mengisi djerigennya.

Selesai sudah. Akhirnya kami balik ke rumah dengan memaksa mbah bahwa kamilah yang akan membawa djerigen airnya. Untuk pertama kali dalam hidup, saya mengangkat sesuatu seberat itu.. Setiap 5 langkah, kami bergantian membawa djerigen tersebut. Baru seperempat jalan saja, kami sudah benar-benar ngos-ngosan. Mbahnya sudah menawarkan diri untuk membawa djerigen tersebut, tapi kami berkata “setengah jalan lagi Mbah..” Dan kami memang benar berhenti setengah jalan kemudian. Sangat berat dan sangat  jauh. Untuk pergi ke sumur aja kalau di hitung-hitung sudah 2 km bolak-balik.

Setelah mendapatkan pengalaman kedua, kami beistirahat di rumah Geraldine, yang letaknya paling dekat dengan pos kamling. Setelah itu kami, saya dan Audrey,  kembali pulang, mengambil minum dan saat itulah kami bertemu dengan ibu dan Alan, anak mereka berumur 9 tahun.

Kami tidak begitu lama di rumah karena setelah berkenalan dengan Alan, kami pergi turun lagi mengajak Alan berjalan-jalan. Kami juga mengajak Geraldine dan Vio yang mengajak Ani pergi berkeliling. Kami memutuskan untuk pergi berkunjung dan menemui Bimo dan Bernard, tapi setelah perjalanan yang cukup jauh, kami memutuskan untuk menemui Nadya dan Ivy. Namun, kami tidak tahu di mana letak rumahnya, jadi kami tetap melanjutkan perjalanan ke rumah Bimo, dan bukannya bertemu dengan Bimo, kami malah bertemu Pa Yohanes dan Pa Thrispin.

Di rumah Bimo, kami bermain dulu sebentar karena kebetulan itu ruumah pa ketua lingkungan dan ada gamelannya.. Kami tidak lama di sana karena sebentar lagi kami harus mandi.

Jadi, sekitar pukul 15.30-an, kami bersama-sama pergi ke sumur untuk mandi. Kami mandi dan mencuci baju bersama.. Bercanda dan mengelabui teman.. Sangat asyik melakukan itu semua bersama-sama.

Setelah mandi, kami kumpul di pos kamling untuk pergi bersama– sama dengan teman-teman yang lain menuju rumah yang ditempati oleh Pa Thrispin dan Pa Yohanes. Kebetulan, kami tidak tahu arah jalan yang kami tempuh, karena Pa Yohanes dan Pa Thrispin tidak memberitahu kami lokasinya. Jadi, kami harus mencari dulu dan masuk ke gang-gang demi mencari rumah tersebut. Nama penduduk di sana juga mirip-mirip, jadi tambah susah pencariannya..

Walaupun kami berjalan sekuat tenaga, ada saja yang tersesat. Kami terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang pertama (anak-anak yang akhirnya ikut refleksi), adalah Ezra-Adit, Irfan-Beryl, Bimo-Radya dan Nadya-Ivy. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari(yang nyasar), Geraldine-Viona, Bimo-Bernard dan Audrey-Talitha.

Sedih sekali nasib kami. Kami telah ikut berjalan cukup jauh, tapi salah satu di antara kami ada yang tidak kuat berjalan jauh cepat-cepat, jadi kami berjalan perlahan-lahan. Tiba-tiba, kami ketinggalan rombongan.. Tapi untung saja saya mendengar suara-suara teriakan dari bawah. Ternyata, Bimo dan Bernard tertinggal di belakang karena harus naik-turun tanjakan dulu. Ada untungnya juga kami bertemu dengan mereka, jika tidak, kami (para perempuan yang tersesat), mungkin akan panik.

Setelah berkeliling-keliling, naik turun gunung, kami akhirnya menyerah saja. Kami kembali ke daerah kami tinggal dan “singgah” di rumah Mbah Parno (orang tua Geraldine dan Vio).

Langsung saja ke akhir hari , kami makan bersama orang tua kami masing-masing. Setelah makan, kami di ajak untuk mengikuti pertemuan lingkungan santo fransiskus yang rutin di lakukan oleh lingkungan ini setiap mereka kedatangan anak-anak yang hendak menetap di sana dalam kurun waktu tertentu.

Kami diminta untuk memperkenalkan diri dengan menyebut nama kami dan panggilannya serta pekerjaan orang tua kami dan alamat asli kami.. Ada salah satu di antara kami yang memperkenalkan diri dengan sangat polos apa adanya. Ya, malam itu akan selalu menjadi suatu kenangan bagi kami. Di mana teman kami mempermalukan dirinya sendiri.

Hari 2

Pagi-pagi pukul 04.00 saya terbangun oleh kesibukan di dapur, walau begitu, rekan saya masih tidur nyenyak. Maka, saya kembali tertidur selama 30 menit lalu lompat dan mengganti baju. Saat saya mengganti baju, teman saya terbangun.

Kami langsung keluar dan membantu Mbah Hardi menyiapkan sarapan. Setelah itu, kami menawarkan diri untuk membantu menyapu ruang tengah mereka yang saya akui sangat berdebu. Seperti salju berwarna abu-abu. Lalu, kami makan dan Mbah Hardi mengajak kami mencari rumput atau’ngarit’.

Kami tidak menyangka akan berjalan menuruni gunung untuk mencapai ladang dan memotong-motong rumput untuk ternak. Rumput di sana tergolong sedikit dan jaraknya pun cukup jauh. Ini pengalaman pertama saya mencari rumput, dan rasanya sangat asyik.. Ingin sekali kami mengulang saat itu.

Saya dan Audrey serta Mbah Hardi segera naik lagi ketika keranjang sudah penuh. Di jalan ke atas, kami berpapasan dengan Geraldine dan Vio serta  Mbah Parno dan anaknya.

Sebelum mencari rumput, kami tidak ingin mandi, tapi setelah memotong rumput yang membuat kulit gatal, kami berubah pikiran. Jadi, saya dan Audrey mengambil peralatan mandi kami dan duduk menunggu Geraldine dan Vio pulang dari ladang mencari rumput, di pos kamling.

Ya, mungkin kalau di hitung-hitung, kami menunggu di sana selama 1 jam, kurang lebih.. Kami duduk di tiup angin yang berhembus lembut, ya bagaimana kami mau bergerak bila sudah mendapat posisi yang enak? Sementara kami duduk di sana, kami bertemu dengan Yana dan Isel yang sedang “membantu” orang tua mereka mencari rumput.

Akhirnya kami melihat Geraldine dan Vi o di kejauhan. Kami langsung menyambut mereka dan mengajak mereka mandi atau setidaknya bilas-bilas badan. Pada awalnya, mereka menolak, tapi tak lama kemudian, badan mereka terasa sedikit gatal dan mereka akhirnya berubah pikiran. Kami mencuci baju, bilas-bilas badan.. Teringat lagi oleh kami bahwa kemarin, kami mandi menggunakan air “kecoa”..

Air di sana tidak bersih. Airnya berbau, tapi tidak berwarna, mengenai berasa atau tidak, kami tidak berani mencobanya.

Kami berada di sumur selama kira-kira 1 jam, kurang lebih. Ketika saya dan vio sedang mencuci baju kami, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah sumur yang alami dan tidak dibangun, tempat Geraldine, Audrey dan Bimo sedang berada. Audrey dan Bimo sedang menimba air. Namun, salah satu ember yang mereka gunakan untuk menimba tercebur, dan bukannya bereaksi untuk mengambil ember setengah tenggelam tersebut, mereka hanya melongo melihat ember tersebut perlahan-lahan tenggelam. Setelah kejadian itu, kami lebih berhati-hati menggunakan ember yang tersedia di sana dan ketika endengar bagaimana kejadiannya, saya tertawa begitu keras dan tebahak-bahak mengetahui 2 anak pintar melakukan hal seperti itu.

Lalu, dalam perjalanan pulang, kami singgah di rumah Geraldine dan Vio untuk beristirahat sebentar. Sementara kami beristirahat, kami berbincang-bincang dengan Bu Parno, orang tuanya Geraldine dan Vio. Di tengah-tengah perbincangan tersebut, kami mendengar ada suara-suara ribut yang kami kenali. Ternyata, kawan- kawan kami dari desa Bendo.

Anak-anak tersebut turun ke bendungan untuk bermain. Lalu kami memutuskan untuk ikut kesana untuk bermain bersama. Tapi pada kenyataannya, kami terlambat. Sebelum kami menyusul ke bendungan, kami mengambil tas dan menaruh pakaian di rumah kami dan berfoto-foto dahulu di dalam kamar lalu kembali ke rumah Geraldine.

Teman-teman saya meminta saya untuk melihat apakah mereka masih di bawah atau sudah pergi. Dan ketika saya tiba di bawah, ternyata nasib saya sedang buruk. Tak seorang pun, ada di sana. Jadi, saya langsung naik lagi dan mencari teman-teman saya yang seharusnya menunggu di teras rumah. Dan kembali pada nasib buruk, sekali lagi mereka telah pergi. Jadi, saya segera pergi ke warung Mbah Sudi, dan ternyata mereka ada di sana memberi makan sapi.

Ketika saya tiba, saya langsung duduk dan mengupas ketela untuk makan sapi. Bukan hanya mengupas ketela, tapi kami telah mengupas dan akhirnya kami pula yang memberi makan sapi. Di tengah-tengah kesibukan itu, Bimo dan Irfan datang dan bertanya apakah kami tau kemana perginya para lelaki yang lain. Kami menjawab bahwa mereka lenyap entah kemana. Irfan pergi tapi Bimo tetap di kandang sapi dan membantu. Di sinilah saya mendapatkan pengalaman berharga. Saat itu adalah saat ke dua saya mengupas ketela dan kali kedua saya memberi makan sapi, tapi itu pertama kali saya di ludahi sapi.

Kami mungkin menghabiskan sisa pagi di rumah Mbah Sudi dengan membantunya memberi makan sapi hingga sapi itu kenyang. Tapi sembari memberi makan sapi dan mengobrol dengan Mbah Sudi, kami merasa menjadi semakin dekat dengannya.

Sayangnya, waktu telah menunjukan pukul 12 siang dan orang tua kami memanggil kami untuk makan.  Jadi kami pulang ke rumah masing-masing dan makan siang. Ketika saya tiba di rumah, ternyata Ibu saya belum ada. Yang ada hanyalah Mbah Hardi dan bapa saya. Jadi, saya dan Audrey makan dulu lalu kami terkejut mengetahui bahwa Geraldine dan Vio datang mengunjungi kami.

Karena mereka datang, kami mencuci piring lalu bermain-main di sana serta foto-foto. Dan kami diberikan es serta semangka. Betapa segarnya.

Setelah itu, kami pamit pada orang tua kami dan meminta ijin untuk pergi ke sumur dan menemani Mbah Sudi. Tapi, ketika kami turun ke warung milik Mbah Sudi, Mbah Sudi meminta kami untuk duduk dan mengobrol bersama.

Jadi, kami berbincang-bincang selama mungkin 2 jam bersama Mbah Sudi, Eyang Parno dan Ibu nya Bimo di depan warung Mbah Sudi. Kami di jamu dengan teh dan air bening . Walaupun kami sudah menolak berkali-kali Mbah Sudi tetap saja keluar membawa baki teh dan air. Bahkan ia memberikan es yang kami tolak.

Kami membicarakan berbagai hal, dan itu sangat mengasyikan karena dapat berkumpul bersama dan mengobrol. Sekitar pukul 3, beberapa teman kami datang berlari-lari membawa berita bahwa ada teman kami yang jatuh berguling-guling menuruni lereng batu. Saya langung melompat berdiri dan berlari ke tempat yang di tunjukan oleh teman-teman kami. Saat saya tiba, saya langsung bertanya”Jatoh dimana dan kenapa?” dan dia menjawab bahwa ia jatuh di dekat rumah yang di tempati pa Yohanes dengan terguling-guling. Lalu saya memberikan plester dan kami semua berjalan pulang, untung saja luka- lukanya tidak begitu parah.

Ketika kami tiba di warung Mbah Sudi, kami langsung mengajak Mbah Sudi ke sumur untuk mandi dan mengambil air. Jadi, Mbah sudi langsung mengambil perlengkapannya dan kami langsung berangkat ke sumur. Kali ini, kami membawa sebuah djerigen besar, sebuah djerigen kecil, ember dan gayung. Sepulangnya dari sumur, kami menyimpan djerigen air di depan pintu warung mbah Sudi dan langsung bersiap-siap pergi ke tempat Pa Yohanes untuk refleksi.

Pukul 16.30, kami semua berkumpul di warung Mbah Sudi untuk pergi ke tempat refleksi. Dan sekali lagi melakukan perjalanan jauh ke puncak bukit. Setibanya di sana, kami benar- benar kecapekan dan heran kenapa tempat untuk refleksi saja harus sejauh itu.

Kami memulai refleksi terlambat karena banyak teman-teman yang tinggal di rumah terdekat dari tempat refleksi datang terlambat. Maka, kami, anak-anak dari Bendo Pangkah lah yang terkena dampaknya. Kami harus menuruni bukit malam-malam, gelap gulita dengan penerangan yang terbatas. Dan di tengah jalan, teman kami harus berhenti dulu untuk ke toilet. Jadi, kami menunggu lama lagi.

Akhirnya pukul 19.00 wib, kami tiba di rumah. Kami memohon maaf kepada kedua orang tua kami karena telat tiba di rumah. Kami langsung makan lalu mulai membereskan tas kami. Sekitar pukul 20.00 wib, kami pergi ke rumah ketua lingkungan untuk menonton orang-orang yang bermain gamelan.

Kami menunggu di sana sekitar 2 jam. Dan kami juga hampir ketiduran karena ngantuk. Untungnya, acara latihan gamelan itu cepat selesai. Jadi, kami langsung balik ke rumah kami masing-masing dan segera tidur karena kami tahu, besok pagi kami harus bangun pukul 03.30 wib untuk misa.

 

Hari 3

Pagi- pagi, pukul 04.00 wib, kami bangun dan langsung berganti pakaian karena kami harus misa pagi. Sekali lagi, kami harus berjalan ke kapel kecil daerah sana. Jujur saja, setibanya di sana, beberapa teman saya menggunakan kemeja sementara saya hanya menggunakan kaos yang saya pakai untuk tidur dilapisi jaket. Misanya kali ini tidak dipimpin pastur karena pasturnya sakit dan berhalangan datang. Misa saa itu menggunakan bahasa Jawa, dan kami tidak mengerti sedikitpun apa kata mereka. Jadi, sebagian besar dari kami jatuh tertidur, termasuk saya.

Setelah misa, kami lngsung keluar kapel dan berkumpul di rumah Pa Yohanes, dan ajaibnya, Pa Yohanes yang berkata bahwa kami semua wajib ikut misa masih tertidur pulas. Kami mengetuk- ngetuk pintu rumahnya dan Pa Yohanes keluar. Beberapa saat setelah Pa Yohanes membantu menangani Vio yang kupingnya kemasukan serangga, saya memindahkan foto-foto yang saya dapatkan selama Live In dari kamera ke laptop Pa Yohanes. Setelah itu, kami baru dibagikan sembako untuk di bagikan kepada penduduk sekitar.

Kami jalan sekitar 2-3 jam demi mencari rumah-rumah orang yang akan di berikan sembako. Karena menurut saya akan terlalu lama jika 6 orang pergi ke tempat yang sama, kami berpencar menjadi 2 kelompok. Satu kelompok membawa sembako untuk daerah atas, semantara kelompok yang satu lagi membagikan sembako kepada yang tinggal di daerah bawah.

Saya mengantarkan sembako untu daerah bawah, dan walaupun arah jalannya menurun, capenya tidak terhingga karena jauh sekali. Akhirnya sekitar pukul 10.00 wib, kami tiba di rumah Nadya dan Ivy karena saya mengantar mereka ke sana dulu. Tapi ketika saya baru saja mau pergi, orang tuanya berkata bahwa saya harus tinggal untuk minum dahulu. Perasaan saya sudah tidak enak karena takut diberi sesuatu yang terlalu manis mengingat ketika mengantar sembako kami di jamu dengan air gula. Dan ternyata memang benar, saya di beri minum teh yang sangat manis. Saya berusaha menolak tapi ibunya tidak mau dan tetap memaksa, jadi pada akhirnya, saya tetap minum.

Setelah itu, saya langsung balik ke rumah dan di sana saya di sambut oleh bapa yang berkata bahwa Audrey sudah makan dan menyuruh saya sarapan pagi pukul 10.15 wib. Jadi saya sarapan, dan untungnya cita rasanya tidak terlalu manis.

Setelah itu, saya pamit pada bapa saya untuk pergi mencari Audrey. Ternyata ia dan Geraldine serta Vio sudah merencanakan akan mandi. Tapi, kami pada akhirnya berkumpul di rumah Mbah Parno. Lalu kami mengantarkan satu sembako lagi yang tersisa ke rumah yang ada di dekat bedungan. Ketika mencari rumah tersebut, saya dan Vio tertinggal di belakang dan tersesat. Kami berputar-putar mencari Geraldine dan Audrey, tapi tetap saja kami tidak melihat batang hidung mereka. Setelah akhirnya kami bertemu penduduk setempat, kami bertana dan ia menunjukan jalannya.

Sesudah itu, kami kembali lagi naik dan duduk di teras rumah Mbah Parno dan Mbah Sudi lewat. Kami langsung menawarkan bantuan yang akhirnya di terima olehnya walaupun ragu-ragu.

Di sumur, kami membantu Mbah Parno dan Mbah Sudi mengambil air. Lalu balik lagi. Mbah Parno dan Mbah Sudi sudah pergi duluan karena kami berkata ingin bermain-main sebentar. Akirnya kami pulang membawa ember berisi air untuk minum sapi. Tapi kami berhenti dahulu di sis kamling dan akhirnya berjalan lagi ke warung Mbah Sudi. Sementara saya mengambil tas mandi, teman-teman saya duduk di serambi warung. Lalu bersama-sama kami pergi ke sumur lagi untuk keramas saja.

Kami mungkin dapat di katakan lupa waktu kare na ketika kami tiba di rumah, tean-teman kami sudah siap berangkat. Sementara kami saja belum makan siang. Saya dan Audrey akhirnya berlari ke rumah dan mengganti baju. Kami langsung berpamitan dengan orang tua kami tanpa makan siang karena takut terlambat.

Tapi, ketika kami tiba di rumah Geraldine, kami di suruh makan siang dulu. Akhirnya kami menurut tapi kami makan dengan terburu-buru karena takut di tinggal. Setelah makan, kami mencuci piring, dan saat mencuci piring itulah mobil Pick Up nya tiba. Kami nyaris melempar piring kami dan berlari langsung ke pick up.

Kami melakukan perjalanan menuju gereja, dan menjadi yang pertama untuk tiba di gereja. Setelah kami, orang-orang berdatangan. Kami misa dengan meriah dan di tutup dengan acara ramah tamah. Walaupun banyakk yang hadir, satu per satu basement mulai kosong. Dan sekitar pukul 20,00 wib, anak-anak bendo pulang setelah memberikan kado kepada orang tuanya masing-masing. Karena sepertinya mobil pick up tidak muat, bapa saya menawarkan saya untuk ikut dengannya naik motor. Tapi saya menlak karena trauma naik motor di daerah tersebut yang naik turun. Jadi, kami berdempet-dempetan duduk di dalam pick up.

Sesampainya di sana, semua bertanya-tanya apakah akan ada perpisahan dari lingkungan st.Fransiscus, ketika Pa Anto menjawab iya, saat itu juga, semuanya bubar. Lalu bapa saya sekali lagi menawarkan saya dan Audrey untuk ikut ke rumah naik motor. Dan saya menolak lagi mengngat saya hampir jatoh dari motor pada hari pertama, tapi Aurey memutuskan untuk ikut. Karena hari sudah malam, saya jalan setengah berlari ke rumah sendirian.

Setibanya di rumah, kami langsung makan malam lalu berganti baju. Tau-tau, teman-teman kami telah ada di ruang tamu. Jadi kami langsung bergabung ke ruang tamu dan bercanda menunggu yang lain tiba. Ketika yang lain tiba dan sudah lengkap, kami langsung memulai perpisahannya. Di awali dengan sambutan oleh ketua lingkungan, lalu doa dari pa prodiakon (Pa Anto), lalu kesan dan pesan kami perwakilan dari setiap rumah setelah itu ada kesan dan pesan dari para orang tua atau siapapun yang ingin berpendapat. Lalu, bapa ketua lingkungan meminta perwakilan dari kami semua untuk pamit, dan ia meminta saya dengan menggoda wakil osis. Saya terkejut dan setengah siap tapi setelah saya bebicara, langsung di tutup oleh Pa Anto sebagai penerimaan perpisahan tersebut. Lalu terakhir ditutup dengan doa. Karena itu hari terakhir kami di sana, beberapa di antara kami meminta untuk menginap di rumah pa Anto dengan menggelar tiker. Tapi bapa ketua lingkungan menolaknya karena takut tidak di ijinkan oleh pihak sekolah, walaupun diijinkan oleh bapa ketua lingkungan. Dan seitar pukul 22.00, semuanya berpamitan untuk pulang.

Hari 4

Inilah hari terakhir kami di Desa Bendo. Hari yang penuh air mata. Pagi-pagi sekitar pukul 5.00 kami bangun dan membantu Mbah Hardi masak sebentar. Lalu kami makan dan langsung berganti baju. Sekitar pukul 06.00, Geraldine dan Vio menunjungi kami. Lalu kami packing ulang semua barang-barang kami alias mengecek apakah ada yang tertinggal. Sebelum kami pulang, kami di beri oleh-oleh dari orang tua kami, lalu

kami di antar ke depan pos kamling dan kami berpisah di sana, air mata bercucuran ketika harus berpisah dengan Mbah Sudi karena iia telah banyak sekali memberikan kami kesempatan untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman yang sudah sedari dulu kami incar.

Berjalan-jalan di Jogja

Pada hari terakhir ini, kami di ajak keliling jogja oleh guru-guru kami. Pertama kami dibawa ke Java untuk membeli bakpia. Di sana, kami tidak begitu lama berhenti. Karena kami hanya berbelanja untuk oleh-oleh maupun snack kami di bis.

Setelah itu, para guru membawa kami ke PARIS atau Parang Tritis.  Pantainya indah dengan pemandangan yang sangat memukau. Rencananya, para guru mengajak kami bermain bola di sana, tapi pada kenyataannya, tidak ada satupun yang tertarik  pada bola yang sudah di taruh di tengah lapangan karena semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Kami mungkin berada di Parang Tritis selama 1 jam 30 menitan, dan kami menghabiskan waktu itu untuk bersenang-senang bersama teman-teman kami karena acara sepak bola di tiadakan.

Saya hanya berharap sepatu saya tidak kemasukan pasir.

Pemberhentian selanjutnya adalah Malioboro. Selama perjalanan menuju Malioboro saya tertidur karena capek, jadi saya tidak terlalu memperhatikan jalan. Tapi selama perjalanan, ada satu palang yang membuat saya tertawa. Seharusnya, palang itu bertuliskan: “shockbreaker”, namun penulisannya menjadi “sockbreaker” yang berarti perusak kaos kaki.

Di Malioboro kami berjalan-jalan, berbelanja, dan bersenang-senang dengan teman-teman kami. Kelompok jalan saya terdiri dari 11 orang kurang lebih. Maafkan saya bila ada yang tertingga l.

Kami diberi waktu hingga pukul 20.00 di Malioboro. Tapi menurut kami, waktu 3 jam yang diberikan masih kurang. Ketika tiba, kami langsung makan di hoka-hoka bento karena menurut kami, lebih cepat kami makan, lebih lama kami dapat berjalan-jalan.

Setelah makan, kami langsung pergi menyusuri jalan-jalan di malioboro menuju toko Mirota Batik, salah satu toko oleh-oleh yang cukup terkenal di daerah itu.

Sekitar pukul 19.45, kami berlari-lari ke bis karena takut tertinggal. Tapi untungnya kami tiba tepat waktu.

Pukul 20.15-an, ketika semua telah berkumpul dan lengkap, kami berangkat pulang.

Pulang

Kami kembali menempuh jalan yang jauh dan sekali lagi, badan kami pegal-pegal. Tapi rasa pegal-pegal itu terkalahkan oleh rasa senang bahwa kita akan pulang.

Bis C adalah bis yang terakhir tiba di sekolah karena supirnya beristirahat dahulu. Jadi, ketika kami tiba di sekolah, halaman sudah sepi. Dan ketika kami pulang, sepilah sekolah.

 

Terima kasih 🙂

 

 Oleh: Talitha Amelia|| 8C/28

Saint Ursula Junior High School

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *